Canggihnya Spyware Israel, Cukup Tahu Nomor Maka Dalam 5 Menit Seluruh Isi Smartphone Terlihat

Dunia digital memang tampak mudah dan menyenangkan. Namun hati-hati, karena ada sofwatre pengintai yang sangat kuat buatan Israel.

By Wahyu Subyanto - Jumat, 30 November 2018 | 17:29 WIB

iPhone X dari Apple

Laporan wartawwn Nextren, Wahyu S.

Nextren.com - Beberapa waktu lalu terjadi saling tuduh di berbagai negara di dunia yang 'panas' akibat terbunuhnya Jamal Khashoggi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Turki.

Jamal Khashoggi sendiri adalah warga negara Saudi dan bekerja sebagai wartawan untuk The Washington Post, Amerika Serikat.

Ternyata ada teknologi Israel yang berperan melacak posisi Jamal Khashoggi selama ini, yang bentuknya berupa aplikasi spyware alias aplikasi mata-mata yang canggih.

Spyware itu biasa dikenal di kalangan intelijen sebagai Pegasus, dan dibuat oleh NSO Group.

Dilansir dari Vice Motherboard, sebuah sumber mengatakan berhasil melihat dari dekat cara kerja spyware pengintai asal Israel itu.

Baca Juga : Belajar Otodidak, Remaja Ini Temukan Kebocoran Google dan Diganjar Rp 500 Juta

Informasi ini ditegaskan Vice Motherboard bahwa sumber memiliki pengetahuan langsung dan terkini dari perusahaan.

Meskipun ada sederet pelanggan yang sangat kontroversial, perusahaan ini nampaknya sangat populer di seluruh dunia.

Saat itu seorang pengusaha Israel rapat dengan penyedia spyware NSO itu.

Perwakilan NSO bertanya apakah mereka boleh mendemonstrasikan perangkat lunak mata-mata mereka yang kuat dan mahal, yang dikenal sebagai Pegasus, di telepon si pengusaha itu sendiri.

Baca Juga : Facebook Kebobolan Lagi, Informasi Pribadi 81 Ribu Akun Dijual Hacker

Sang pengusaha setuju, tetapi mengharuskan NSO untuk menargetkan iPhone lain, yang dia bawa dan memiliki nomor telepon asing.

Dia memberi NSO nomor telepon itu dan meletakkan telepon di meja.

Artinya, pihak NSO baru tahu nomor itu saat pertemuan dan tak menyentuh iPhone yang baru dibawa itu.

Setelah 5 sampai 7 menit, maka isi layar iPhone-nya muncul di layar besar yang dipasang di ruang rapat.

Semuanya terlihat bahkan tanpa si pengusaha mengklik tautan berbahaya.

Baca Juga : Marak Instagram Kebobolan, Ganti Password Agar Bebas Ancaman Hacker

vice kantor NSO


"Saya melihat (spyware NSO itu) mengklik semua jenis ikon: ikon email, ikon SMS, dan ikon lain," katanya kepada Vice Motherboard.

"Dan tiba-tiba saya melihat semua pesan saya di sana dan saya melihat semua email di sana dan mereka mampu membuka informasi apa pun yang ada di [iPhone] saya," lanjutnya.

Bahkan, perwakilan NSO itu bisa mengakses mikrofon dan kamera di iPhone-nya.

Demonstrasi itu menyoroti kuatnya produk yang semakin populer di kalangan pemerintah itu: software peretasan telepon jarak jauh untuk mengakses komunikasi dan data lain dari target.

Ya, cukup nomor aktif saja yang dibutuhkan, maka hanya dalam hitungan menit, semua isi smartphonenya bakal bisa diketahui.

Baca Juga : Pengguna Twitter Wajib Ganti Password karena Bug, Benarkah Kebobolan?

NSO adalah salah satu perusahaan utama yang menyediakan produk semacam itu kepada biro iklan di seluruh dunia.

Itu juga termasuk sejumlah pelanggan yang telah memakainya untuk mamantau aktivis hak asasi manusia, pekerja nonprofit (LSM), dan jurnalis di Uni Emirat Arab dan Meksiko.

Pegasus dapat menginfeksi perangkat Android dan iPhone yang paling up-to-date, lalu menyedot email target, obrolan Facebook, dan foto-fotonya.

Pegasus ini juga bisa mengambil lokasi GPS dan panggilan telepon mereka, dan banyak lagi.

Baca Juga : Facebook Tunda Peluncuran Smart Speaker Karena Isu Kebobolan Data

Vice Data yang diambil software buatan NSO ini


NSO menyediakan software ini, kemudian pelanggan seperti penegak hukum atau badan intelijen, menerapkannya sendiri pada target mereka.

Seperti yang dilaporkan New York Times baru-baru ini, NSO mendemonstrasikan produknya kepada klien potensial.

Perusahaan saat ini menghadapi sejumlah tuntutan hukum, termasuk dugaan dalam operasi peretasan ilegal itu sendiri.

Awalnya perusahaan beroperasi secara relatif rahasia, sampai para peneliti di Citizen Lab menerbitkan laporan tentang NSO pada tahun 2016 yang menghubungkan produk perusahaan dengan peretasan Ahmed Mansoor, seorang aktivis hak asasi manusia di Uni Emirat Arab.

Sebuah sumber yang akrab dengan NSO mengatakan kepada Motherboard bahwa perusahaan ini memiliki sekitar 600 karyawan, dengan sekitar 250 orang yang bekerja dalam penelitian dan pengembangan, termasuk menciptakan eksploitasi di rumah untuk masuk ke ponsel.

Baca Juga : Cegah Kebobolan, Gambar Bercetak Gusur Otentikasi Wajah di Windows 10

Perusahaan ini memiliki sekelompok insinyur yang memastikan alat-alat perusahaan tetap bisa bekerja, karena produsen smartphone selalu menyatakan "perang" terhadap penyedia hacking pemerintah.

Tujuan 'perang' para vendor smartphone itu untuk memblokir semua kemungkinan yang terbuka yang memungkinkan perusahaan seperti NSO masuk.

NSO biasanya mencoba untuk merendahkan diri dan menjaga agar tidak terlalu tampil. 

NSO bahkan hanya punya situs minimalis dan hanya menghadiri pameran dagang, meskipun salinan brosur produknya telah bocor selama bertahun-tahun.

Sumber yang akrab dengan NSO menambahkan bahwa perusahaan memiliki sekitar 100 karyawan customer support.

Baca Juga : 8 Aplikasi Android Ini Diam-Diam Curi Data Pengguna, Total 2 Miliar Download

Selama bertahun-tahun, organisasi hak asasi manusia telah berulang kali mengkritik NSO karena menjual produknya kepada pelanggan yang tak hanya menargetkan para pembangkang politik seperti Mansoor, tetapi juga membidik wartawan di Meksiko, dan peneliti Amnesty International.

Sementara dalam pernyataan yang sebelumnya dikirim ke Motherboard, NSO mengatakan bahwa produknya digunakan untuk memerangi terorisme, penculikan anak, dan kejahatan serius lainnya.

Para peneliti dari Citizen Lab telah menerbitkan sebuah laporan yang menemukan produk Pegasus NSO digunakan di 45 negara, termasuk di Amerika Serikat.

Dalam pernyataan yang dikirim ke Motherboard, NSO membantah dengan mengatakan banyak negara yang terdaftar oleh Citizen Lab bukan pelanggan, dan produknya tidak bisa beroperasi di Amerika Serikat.

Baca Juga : Waspadalah, Website Phishing Pencuri Datamu Kini Berkedok Site Aman

Hebatnya, penelitian sebelumnya telah mencatat bahwa software Pegasus memiliki fitur yang disebut "bunuh diri", yang dapat menonaktifkan penyebaran malware oleh pelanggan.

Menurut sumber yang akrab dengan NSO, fitur "bunuh diri" dapat aktif jika pelanggan yang berwenang sedang membidik target di satu negara, tetapi targetnya pindah ke negara lain.

Di seluruh dunia, pelanggan NSO telah membeli produk yang mampu membidik target sekitar 350 hingga 500 perangkat (15 hingga 30 spyware per pelanggan).

Setelah munculnya laporan dari Citizen Lab itu bahwa spyware itu dipakai untuk memata-matai Mansoor, maka lebih banyak lagi pelanggan potensial yang mendekati NSO.

Untuk setiap penjualan potensial, NSO harus mendapatkan izin resmi berupa lisensi ekspor, dari Kementerian Pertahanan Israel.

Baca Juga : Awas, Fitur Download Your Data di Instagram Bisa Bocorkan Kata Sandi

Dengan lampu hijau itu, NSO kemudian menanyakan kepada komite etika bisnis untuk menyetujui penjualan.

Komite Etika Bisnis NSO ini dikabarkan mencakup ahli luar dari berbagai disiplin ilmu, termasuk hukum dan hubungan luar negeri.

Menurut NSO seperti dilansir dari Motherboard Vice, komite ini akan meninjau dan menyetujui setiap transaksi dan berwenang untuk menolak perjanjian atau membatalkan perjanjian jika ada kasus penggunaan software yang tidak tepat.

Sumber yang akrab dengan NSO mengatakan bahwa komite itu mencakup dua pengacara yang ahli dalam hak asasi manusia, dan tiga mantan pejabat AS.

Baca Juga : Facebook Perbaiki Lubang Keamanan Yang Bisa Bocorkan Data User

Pelanggan akan dikunjungi oleh karyawan NSO yang mengaudit bagaimana alat tersebut digunakan.

Kunjungan ini melibatkan wawancara dengan operator dan kunjungan ke fasilitasnya.

Jika karyawan NSO itu melihat sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka dapat mengeskalasi masalah, yang dapat menyebabkan sistem pelanggan dimatikan dari jarak jauh.

Tim Hacking pesaing NSO di masa lalu juga mengklaim memiliki komite serupa.

Tetapi bocoran dokumen dan email mengungkapkan bahwa dugaan komite independen eksternal itu, hanyalah sebuah kantor hukum yang disewa oleh Tim Hacking untuk memastikan kesepakatannya tidak bertentangan dengan undang-undang ekspor lokal.

Baca Juga : Facebook Membagi Data Pribadi Ke Vendor Hape Tanpa Pengawasan

Tim Hacking terus menjual ke banyak pelanggan yang sangat kontroversial, termasuk Sudan.

Itulah sebabnya NSO harus melakukan yang lebih baik untuk meyakinkan para pengritiknya.

Namun menurut Direktur Citizen Lab, Ron Deibert, klaim NSO Group tentang 'due diligence yang ketat' dan 'Komite Etika Bisnis' itu tidak masuk akal.

Pasalnya, penelitian Citizen Lab tentang UEA (Uni Emirat Arab), Meksiko, dan, target spionase di Amnesty International bukanlah target kriminal atau teroris.

Baca Juga : Gara-Gara Pelanggaran Data, Yahoo Diharuskan Bayar Denda Rp 760 Miliar

Bahkan penyimpangan itu diendus oleh Amit Serper, seorang peneliti keamanan Israel di Cybereason yang diundang untuk inteview kerja di NSO.

Amit Serper malah ragu jika perusahaan mampu menghindari pelanggan yang akan menyalahgunakan alat-alatnya.

Bahkan menurut Amit Serper, (teknologi) ini seperti Tim Peretasan, karena perusahaan selalu berbisnis karena uang.

Namun apapun itu, bisnis NSO memang sedang booming.

Itulah sebabnya produknya mampu mengesankan mereka yang melihat kemampuan software itu beraksi secara langsung.

Ya, cukup beritahu nomor aktifnya, maka semua isi smartphone bisa dilihat, hanya dalam waktu 5 menit saja.

Begitu canggih tapi mengerikan ! (*)

Page:

Video Pilihan

Penulis: Wahyu Subyanto

PROMOTED CONTENT

COMMENTS
BERITA TERKAIT

Awas Serangan Kejahatan Cyber Saat Harbolnas! Ini Tips Pencegahannya

Tren, 2 Tahun yang lalu

Saat Harbolnas, kejahatan cyber malah lebih tinggi dari biasanya. Awas kena hack! Ikuti tips berikut ini agar transaksi belanja kamu aman

Cara Bikin WhatsApp Seakan Tidak Aktif, Bisa Hindari Kejahatan

Tren, 1 Tahun yang lalu

Kejahatan Siber memang bisa terjadi lewat media apa saja, salah satunya WhatsApp. Untuk menghindarinya Anda bisa bersembunyi di WhatsApp.

Cegah Kejahatan di Jalanan, Driver Grab Bakal Dibekali Panic Button

Tren, 1 Tahun yang lalu

Pengemudi transportasi online sering bertemu dengan beragam modus kejahatan selama beraktifitas di jalanan.

Polisi Inggris Buat AI untuk Deteksi Kejahatan yang Belum Terjadi

Tren, 1 Tahun yang lalu

Kepolisian Inggris mulai kembangkan teknologi berbasis AI untuk deteksi resiko kejahatan sebelum dilakukan, dan mencegahnya sebelum terjadi.

Facebook Izinkan Pengguna Buat Filter Komentar Demi Kurangi Kejahatan

Apps, 1 Tahun yang lalu

Fitur baru Facebook mengizinkan pengguna memfilter atau memblokir komentar yang berisi kata, frasa atau emoji tertentu.

BERITA LAINNYA

Fintech P2P JULO Dengan 1 Juta Pengguna Kini Resmi Kantongi Izin OJK

Apps, 7 Jam yang lalu

Aplikasi fintech P2P JULO resmi mendapatkan izin usaha dari OJK, sehingga diharapkan bisa menambah ketenangan para lender dan borrowernya.

Drone Nuklir Rusia Poseidon, Bisa Dikontrol Hingga 10 Ribu Km dan Picu Tsunami Saat Meledak

Tren, 8 Jam yang lalu

Makin panasnya situasi politik internasional saat ini tak lepas dari pertikaian antara Amerika dan China, yang merembet ke berbagai bidang.

Siasat Huawei Saat Ditekan AS dan Inggris Dalam Pembangunan Jaringan 5G

Tren, 11 Jam yang lalu

Pembangunan jaringan 5G di berbagai negara masih terus berlangsung, dengan penyedia perangkat utama dalah Huawei. Namun Huawei ditolak AS dan Inggris.

Polemik Dirut Baru TVRI, Netizen Gaungkan Tagar BoikotTVRI di Twitter

Tren, 12 Jam yang lalu

Imaan Brotoseno ditunjuk sebagai Dirut LPP baru TVRI. Namun saat ini netizen menyerang masa lalu Iman yang kerap memposting konten berkesan dewasa.

Aplikasi Terbaru Facebook CatchUp, Bisa Dipakai Telepon 8 Orang Bersamaan

Apps, 13 Jam yang lalu

Facebook terus mengembangkan aplikasi baru untuk para penggunanya, dan kali ini untuk melakukan diskusi atau rapat via telepon beramai-ramai.

Adaptasi Pandemi Covid-19, Acer Berbagi Pengalaman dan Tips Dunia Edukasi Lewat Webinar Buka Wawasan Terus

Tren, 13 Jam yang lalu

Setelah para siswa belajar di rumah selama skeitar 3 bulan, seperti apa kendala dan tantangan yang bakal dihadapi dunia pendidikan. Yuk diskusi bersama pakarnya!

Cara Edit Video Tanpa Aplikasi di Smartphone Oppo, Gak Ribet!

Tren, 14 Jam yang lalu

Oppo juga sedang menyelenggarakan kompetisi bertajuk #ColorMyRamadan dengan hadiah smartphone Reno3 Series bagi pemenangnya.

Cara Mudah Bikin Foto Oplas Pakai Aplikasi FaceApp yang Lagi Tren

How To, 15 Jam yang lalu

Tren #OplasChallange sedang menghiasai jagat media sosial Instagram. Kamu juga bisa melakukannya dengan cara berikut ini!

Trafik Layanan Data Lebaran 2020 Indosat Ooredoo Melonjak 27 Persen

Tren, 15 Jam yang lalu

Setiap musim lebaran, trafik internet operatgor melonka drastis, apalagi tahun ini saat penerapan WFH yang luas.

Langkah Menuju 5G di Indonesia, Telkomsel Buat Layanan Koneksi VoLTE

Tren, 15 Jam yang lalu

Selama masa soft launch ini, jaringan VoLTE baru bisa dinikmati oleh pelanggan di Jadetabek dan Surabaya.

Samsung Galaxy Fold 2 Dilaporkan Sudah Masuk Tahap Produksi Masal

Tren, 16 Jam yang lalu

Meski alami peningkatan, harga Samsung Galaxy Fold 2 dikabarkan lebih murah dari pendahulunya yang dibanderol sekitar 30 juta Rupiah.

Bocoran Baru Galaxy Note 20 Series, Kali Ini Pilihan Warna

Tren, 16 Jam yang lalu

Smartphone ini dikabarkan akandiluncurkan pada bulan Agustus mendatang dengan pilihan warna yang anti-mainsteam.

Bos Twitter Bela Perusahaannya Yang Diancam Tutup Oleh Donald Trump

Tren, 17 Jam yang lalu

Presiden Donald Trump sempat mengancam akan menutup Twitter karena ia tidak terima dengan pelabelan cuitannya yang dianggap menyesatkan.

Hasil Edit Foto Diambil FaceApp Seterusnya: Media, FBI dan Pakar Keamanan Ikut Selidiki

Apps, 1 Hari yang lalu

Inilah hasil pengujian tentang kecurigaan terhadap aplikasi FaceApp yang dianggap membayakan foto-foto pribadi.

Pemakaian Internet Naik Selama Pandemi, GoJek Waspadai Penipuan Manipulasi Psikologis

Tren, 1 Hari yang lalu

Seiring dengan meningkatnya lonjakan trafik internet, potensi penipuan daring menggunakan manipulasi psikologis juga meningkat.

Tarik dan Kirim Uang di BNI Lewat Hape, Uang Bisa Diambil di ATM Tanpa Kartu Debit

Tren, 1 Hari yang lalu

Meski tak membawa kartu debit, kini pengguna bank BNI bisa menarik dan mengirim uang lewat hape, lalu diambil di ATM tanpa kartu.

Oppo Ace2 EVA Edition Hadir Lewat 4 Aksesoris Dengan Unsur Anime

Gadget, 1 Hari yang lalu

Oppo hadirkan Oppo Ace2 EVA Edition dengan empat aksesoris yang memiliki desain yang sesuai anime Neon Genesis Evangelion.

Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19, Trafik Data XL Axiata Naik 25 Persen

Tren, 1 Hari yang lalu

Lebaran tahun ini sangat berbeda, karena jumlah pemudik dari berbagai kota besar menurun drastis. Maka pola kenaikan trafiknya juga sangat berbeda.

Inilah Karakter Asli Pengguna Aplikasi Kencan Tinder Berdasarkan Zodiak

Apps, 1 Hari yang lalu

Tinder bagikan gaya atau kebiasaan pengguna Indonesia dalam aplikasinya berdasarkan zodiak, lihat yuk!

Inilah 4 Upaya Pemerintah Mengatasi Serangan Siber di Dunia Digital

Tren, 1 Hari yang lalu

Muhammad Farhan, perwakilan Komisi I DPR RI membagikan upaya yang dilakukan pemerintah dalam atasi serangan siber di dunia digital.

Facebook Hadirkan Collab Aplikasi Video Pendek Untuk Para Musisi

Tren, 1 Hari yang lalu

Facebook dari divisi NPE hadirkan aplikasi Collab untuk membagikan video pendek para musisi sejenis TikTok.

Inilah Metode-Metode yang Disiapkan Menkominfo Untuk Hadapi New Normal

Tren, 1 Hari yang lalu

Literasi digital dianggap penting karena bisa digunakan oleh masyarakat bisa mengenali dan mencegah tindakan rekayasa sosial yang marak terjadi..

Puluhan Juta Netizen Afrika Percaya Bill Gates Sengaja Munculkan Wabah Corona

Tren, 1 Hari yang lalu

Teori konspirasi tentang wabah virus corona yang sengaja dibuat, tak hanya muncul di Indonesia. Ternyata di Afrika tuduhan itu malah lebih luas lagi.

Gara-Gara Dugaan Hacking, Keluarga Kartel Narkoba Tuntut Apple

Social, 1 Hari yang lalu

Tuntutan masih dianggap skeptis oleh sebagian kalangan karena keluarga Escobar sebelumnya juga pernah menuntut Apple sebesar 30 miliar USD.

Xiaomi Sedang Siapkan Hape Dengan Layar 144 Hz dan Chip MediaTek

Gadget, 1 Hari yang lalu

Xiaomi dikabarkan sedang siapkan smartphone dengan layar 144 Hz dan ditenagai oleh chip MediaTek Dimensity 1000+.

Loading ...