Saat itu perusahaan media sosial itu juga sudah menanggapinya dengan menghapus konten-konten "bermasalah" tersebut.
Namun nampaknya langkah yang dilakukan oleh Parler tetap tidak bisa menjaga posisi John Matze sebagai pemimpin perusahaan.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Twitter Larang Keberadaan Donald Trump di Platformnya
Lebih lanjut, Matze pun mengklaim kalau dirinya diberhentikan oleh dewan yang dipimpin oleh Rebekah Mercer.
Baca Juga: CEO Apple Buka Suara Soal Kerusuhan di AS dan Dukung Adanya Kesetaraan
Matze menyebut kalau Mercer menilai dirinya memiliki "keyakinan kuar pada kebebasan berbicara" dan visi produknya, termasuk "apa saya percaya ini adalah pendekatan yang lebih efektif untuk moderasi konten," dilansir dari The Verge.
Dengan adanya ungkapan tersebut, kemungkinan bahwa pemecatan yang terjadi pada John Matze bisa saja didasari oleh merosotnya pemasukan Parler di bawah kepimpinan Matze.
Namun asumsi terbesar saat ini lebih merujuk pada kejadian bocornya konten-konten yang dianggap mendukung kerusuhan di Gedung Capitol AS.
Pasalnya bukan saja dinilai pro terhadap kerusuhan, aplikasi Parler juga diduga memiliki kerentanan pada soal privasi pengguna.
Baca Juga: TikTok Ikutan Cekal Video Donald Trump yang Dinilai Menghasut Massa

Pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC, 6 Januari 2021. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota untuk menghentikan Kongres AS mengesahkan kemenangan Joe Biden.