Menhan China Bersumpah Hancurkan Musuh Pemecah China-Taiwan, Ditujukan untuk AS!

Minggu, 12 Juni 2022 | 12:00
Reuters/Caroline Cia

Menteri Pertahanan China Wei Fenghe

Nextren.com -China dan Amerika Serikat kembali berseteru terkait kedaulatan Taiwan.

Menteri Pertahanan China Wei Fenghe dengan tegas menyatakan bahwa Beijing siap menghancurkan siapa saja yang berusaha memecah kessatuan China dan Taiwan.

Pernyataan tersebut ditujukan khususnya untuk AS yang beberapa waktu lalu memberikan pernyataan kontroversial.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin sebelumnya menuduh China melakukan kegiatan militer yang provokatif di dekat Taiwan.

Baca Juga: China Tuduh Pesawat Tempur Kanada Lancang Lakukan Pengintaian dan Provokasi

Dilansir dari The Guardian, China akan "berjuang hingga akhir" untuk menghentikan Taiwan mendeklarasikan kemerdekaannya.

Menhan China Wei Fenghe dalam sebuah pidato bersumpah akan menghancurkan pihak-pihak yang mendukung upaya kemerdekaan Taiwan.

"Kami akan sangat berjuang dengan segala cara dan kami akan berjuang hingga akhir. Ini adalah satu-satunya pilihan bagi China," ujar Wei Fenghe di pertemuan keamanan di Singapura.

Dalam pertemuan tersebut Wei Fenghe turut menyebutkan bahwa "Taiwan China yang pertama dan terpenting".

Baca Juga: Bersiap Perang Lawan China, Warga Sipil Taiwan Mulai Ikuti Pelatihan Senjata

Menhan China memperingatkan seluruh pihak yang mendukung kemerdekaan Taiwan dan ingin memecah kesatuan China akan dihancurkan olehnya.

"Mereka yang mengejar kemerdekaan Taiwan dalam upaya untuk memceah China pasti tak akan berakhir baik," ujar Wei Fenghe.

"Tak seorang pun boleh meremehkan tekad dan kemampuan angkatan bersenjata China untuk integritas teritorialnya," sambungnya.

Baca Juga: China Bersiap! Jika Invasi Taiwan, Efek Sanksi Ekonomi Negara Barat Bakal Lebih Parah dari Rusia

Beijing memandang Taiwan sebagai wilayah demokratis yang memiliki pemerintahan sendiri namun tetap tergabung dalam China.

Beijing akan melakukan apapun untuk menghentikan Taiwan mendeklarasikan kemerdekaannya, termasuk dengan kekerasan.

Sementara itu, AS sendiri mengakui kebijakan "One-China" yang mengacu pada kebijakan AS yang mengakui RRC sebagai satu-satunya pemerintahan resmi China.

Ketegangan antara AS dan China baru-baru ini disebabkan karena China meningkatkan aktivitas militernya di kawasan perbatasan laut dan udara Taiwan.

(*)

Editor : Wahyu Subyanto

Baca Lainnya