Vietnam Diduga Biayai Hacker Untuk Curi Data Kesehatan di Wuhan

Kamis, 23 April 2020 | 12:00
PIXABAY/FOTOART-TREU

Ilustrasi hacker

Nextren.com - Upaya pencegahan dan penyembuhan masyarakat dari pandemi sedang diupayakan oleh tenaga-tenaga kesehatan di seluruh dunia.

Diketahui bahwa kasus ini sudah menjangkit sekitar 2,6 juta orang dan paling banyak menyerang warga negara Amerika Serikat.

Untuk wilayah Asia, kasus tertinggi dipegang oleh Tiongkok dimana virus COVID-19 menyebar pertama kali di Wuhan.

Menyebar sejak bulan Januari lalu, kini Wuhan diketahui telah berhasil melewati masa sulit akibat pandemi tersebut.

Baca Juga: FBI Tuduh Hacker yang Mengintai Peneliti COVID-19 Didukung Negara

Tentunya dengan keberhasilan tersebut membuat beberapa negara dilaporkan ingin mengikuti jejak Tiongkok dalam menangani kasus wabah penyakit itu.

Namun, beberapa laporan mengatakan bahwa ada beberapa negara yang melakukan cara curang dengan pengambilan data secara paksa.

Melansir dari CNet, peneliti cybersecurity FireEye melaporkan bahwa ada sejumlah peretas yang menargetkan pemerintah Tiongkok untuk mengambil informasi tentang bagaimana negara maju tersebut dapat menangani kasus COVID-19.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa hacker-hacker tersebut adalah penjahat yang didukung dan dibiayi oleh Pemerintah Vietnam.

Terkait detil serangannya, FireEye menuduh bahwa serangan digital itu menargetkan Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok serta pejabar di Wuhan.

Upaya peretasan data ini diketahui sudah berjalan mulai dari tanggal 6 Januari lalu, sehari setelah WHO memperingatkan wabah penyakit COVID-19 pertama kali.

Menurut peneliti FireEye, serangan tersebut melibatkan email yang berisi tautan untuk pelacakan yang mengarahkan pengguna pada halaman penawaran alat-alat kantor.

Tautan yang merupakan manipulasi itu juga diketahui akan membuat para korban membuka serangkaian malware yang sudah dibuat oleh hacker.

Baca Juga: Pejabat Keamanan Dunia Ungkap Cara Hacker Ambil Untung Dari Wabah Corona

"Suasana ketidakpercayaan saat ini memperkuat ketidakpastian, mendorong pengumpulan intelijen pada skala yang menyaingi konflik bersenjata," kata FireEye dalam laporannya kepada CNet.

"Sampai krisis ini berakhir, kami mengantisipasi spionase cyber terkait akan terus meningkat secara global," lanjutnya.

Hingga sampai saat ini, Pemerintah Vietnam masih bungkam dan belum memberikan komentar terkait tuduhan FireEye ini.

Baca Juga: Inilah Cara Mudah Dari Para Hacker Agar Terhindar dari Serangan Hacker

Di waktu yang bersamaan, Google juga mengatakan kalau cyberspies yang didukung oleh pemerintah asing menggunakan tawaran makanan gratis untuk mengelabui pekerja pemerintah Amerika Serikat untuk mengungkapkan informasi(*)

Editor : Wahyu Subyanto

Baca Lainnya