"Kami ingin mereka mendapatkan pendapatan yang fix melalui Blu-Jek ini. Kami berharap mereka bisa mendapat sekitar Rp 6 juta per bulan, sementara ini kami juga memberi bonus Rp 50.000 bila mereka berhasil dapat lebih dari lima penumpang sehari," terangnya.
Bukan Blue Bird
Sekilas melihat jaket pengemudi Blu-Jek yang dominan warna biru itu, pengguna akan teringat pada perusahaan taksi Blue Bird. Bahkan, karena kemiripan ejaan nama itu sempat beredar desas desus yang menyebut Blu-jek sebagai bagian dari perusahaan taksi itu.
Namun, ternyata Blu-Jek tidak terkait sama sekali dengan perusahaan taksi tersebut. "Tidak, kami tidak ada afiliasi dengan Blue Bird. Kita memang dari awal pilih warna biru, dan Blu itu maksudnya dari kata blusukan," tegas Garret.
Dua pendiri perusahaan layanan ojek digital Blu-Jek, Garret Kartono dan Michael Manuhutu (kanan).
"Sekarang ini kami masih self funding, berdua saja. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk menerima investasi. Kita masih lokal, tapi punya rencana ekspansi untuk internasional juga, mungkin di Asean dulu, seperti Bangkok atau Filipina," imbuhnya.
Blu-Jek bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk sistem pembayaran, Telkomsel untuk nomor telepon yang dipakai Rider --sebutan untuk pengemudi Blu-Jek-- dan ZTE untuk ponsel yang digunakan.
Selain layanan transportasi, Blu-Jek juga menawarkan jasa pengantaran dokumen, bantuan belanjaan dengan nilai maksimal pembelian Rp 1 juta, dan jasa pengantaran makanan.
Perusahaan ride sharing itu menyiapkan sekitat 1.000 orang pengemudi, dan kemungkinan menambah sekitar 5.000 orang lagi yang lamarannya sedang diproses.