Satelit "Internet Murah" Facebook Tinggal Kenangan

Selasa, 09 Juni 2015 | 16:06
discovery.com

Ilustrasi

Mulanya, Facebook memiliki rencana membangun satelit khusus penyedia koneksi internet murah. Sasarannya adalah negara-negara berkembang yang selama ini tak terjamah internet, seperti benua Afrika. Kini rencana Facebook tinggal angan-angan saja. Amir Efrati dari The Information, seperti dikutip Nextren, Selasa (9/6/2015), melaporkan bahwa raksasa jejaring sosial itu sudah menghentikan proyek yang dimaksud.

Alasannya adalah kekhawatiran terhadap dana yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan pembuatan satelit. Jika proyek tersebut tetap berjalan, dana yang harus dikeluarkan memang diperkirakan mencapai 500 juta hingga 1 miliar dollar Amerika Serikat (AS).

Sumber yang dekat dengan informasi ini menyebutkan satelit Facebook yang dibatalkan itu termasuk jenis geostationer. Orbitnya berada di ketinggian sekitar 35.000 kilometer di atas Bumi dan bergerak mengikuti rotasi Bumi.

Sedangkan di sisi lain, jika rencana tersebut dapat terwujud, negara-negara berkembang bisa saja mendapat keuntungan berupa perubahan ke arah positif. Sementara bagi Facebook, negara tersebut menjadi sumber keuntungan baru.

Keuntungan Facebook adalah dari sisi pemasaran. Dengan menyediakan alat yang dibutuhkan untuk mengakses web, mereka bisa memastikan kepemilikan jalur menuju pasar baru yang sebelumnya tak pernah dicapai orang atau perusahaan lain.

Selama ini raksasa jejaring sosial itu memang tengah mencari cara untuk memperluas jangkauan internet sekaligus mempermudah akses menuju produk mereka. Sasaran utama Facebook adalah negara-negara berkembang.

Selain proyek satelit yang batal, mereka telah menjalankan proyek lain, seperti Internet.org atau Facebook Lite.

Internet.org merupakan inisiatif Facebook yang melibatkan banyak perusahaan untuk menyubsidi biaya layanan data di negara-negara tertentu. Lalu Facebook Lite merupakan sebuah aplikasi Android yang sangat ringan dan dirancang agar bisa mengakses jejaring sosial itu meski menggunakan bandwidth rendah.

Editor : Reza Wahyudi

Sumber : The Information

Baca Lainnya