Ubah "Noise" di Medsos Jadi "Voice" yang Bermanfaat

Jumat, 05 Juni 2015 | 13:19
Shutterstock

Media sosial bisa dimanfaatkan untuk beragam aktivitas produktif.

Oleh: Pepih Nugraha, jurnalis penggiat media sosial

Tiba-tiba kata noise dan voice menjadi primadona di ranah media. Bukan karena dua kata bahasa Inggris itu sangat mirip dengan bunyi yang juga nyaris serupa (beda bunyi “n” dan “v” saja), tetapi dua kata itu seperti dilekatkan paksa kepada dua jenis media; media sosial dan media massa.

Noise yang bermakna gaduh atau berisik (kasarnya resek) selalu diterakan kepada media sosial. Apa-apa yang tak penting seperti dengungan, grendengan, atau grundelan warga di media sosial, ya noise itulah. Sementara voice dimaknakan sebagai sesuatu yang penting, terhormat, teratur, dan terpercaya menyangkut berita yang ditulis/dilaporkan oleh wartawan profesional di media massa.

Pendek kata, noise itu media sosial, sementara voice media massa.

Saya menghadapi kenyataan, para insan pers media arus utama lebih mempertahankan voice yang mereka tulis atau laporkan daripada sekadar mengurusi noise (dengungan) di media sosial. Karenanya mereka lebih memilih mempertentangkan antara keduanya, noise versus voice, yang tak bisa dipersatukan dengan cara apapun seperti air dan minyak.

“Kami memilih voice karena ini sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan secara profesional, ini pakem yang sudah tidak bisa diganggu gugat. Biarlah noise hanya terjadi di media sosial yang tidak ada kaitan dengan kerja newsroom media kita,” demikian kira-kira argumen seorang tokoh media yang saya dengar langsung.

Tidak ada yang keliru dari semangat mempertahankan diri dari kesejatian media massa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi itu, sejak koran masih bernama courant atau majalah masih bernama gazette. Jangan-jangan malah sejak anggota dewan kota Romawi mencatatkan peristiwa sehari-hari parlemen dalam acta diurna yang kemudian menjadi jurnal, sebuah kata yang diduga dari mana istilah “journalism” bermuasal.

Tentu saja penggiat media arus utama, apalagi mereka yang duduk di puncak hierarkis organisasi media memegang teguh credo “facts are sacred”, bahwa publik pembaca memerlukan informasi berdasarkan peristiwa faktual yang dilaporkan wartawan profesional daripada opini liar dari –meminjam pernyataan salah seorang menteri yang kontroversi— warga yang nggak jelas.

Memang tersedia tiga pilihan terbuka: pertama, mempertentangkan noise lawan voice secara diametral tanpa kompromi; kedua, mengawinkan noise dengan voice dalam sebuah media; ketiga, mengolah dan menyaring dan memodifikasi noise menjadi voice sebagai informasi baru dari warga pengguna.

Pilihan pertama jelas diambil oleh penggiat media arus utama yang tidak ingin fakta-fakta sucinya dicemari oleh dengungan atau grundelan publik yang tidak berguna. Karena sikapnya statis, ia harus "say goodbye" kepada konten (sebagus apapun) di media sosial. Pilihan kedua agak lumayan dinamis karena berupaya mengawinkan atau menyandingkan konten warga di media sosial dengan berita hasil kerja wartawan dalam satu media yang sama. Sedangkan pilihan ketiga selain dinamis, juga inovatif karena menjadikan keriuhan dan dengungan warga di media sosial menjadi informasi yang bermanfaat untuk publik pembaca media arus utama tersebut.

Analogi kehadiran media baru dalam skala tertentu mirip dengan kelahiran ideologi baru; diremehkan, dihina, dilecehkan, dicurigai, dan karenanya harus dibasmi karena mengusik “keyakinan lama” yang sudah mengakar secara turun-temurun. Meski semangatnya demikian, ideologi atau bahkan agama yang baru lahir tidak bisa dibasmi begitu saja oleh pemeluk keyakinan lama dan malah berkembang luas, sementara ideologi lama yang telah lebih dahulu lahir juga tetap ada. Ini hanya soal “kecemburuan”.

Demikian juga kelahiran media baru. Kelahiran media baru sejatinya tidak pernah menggantikan secara penuh media-media yang telah lebih dahulu ada, malah pada akhirnya saling melengkapi, bersinergi dan berkonvergensi. Taruhlah tonggak kelahiran media bermula dari media cetak (print) –saya harus berterima kasih kepada Johannes Gutenburg— yang tetap ada meski media elektronik (televisi dan radio) dan media online kemudian hadir. Kelahiran media baru tidak lantas menghapus keberadaan media yang telah lebih dahulu ada.

Banyak orang keliru memprediksi bahwa cetak akan habis tatkala radio muncul, radio-cetak akan tandas tatkala televisi datang, televisi-radio-cetak akan musnah tatkala online tiba. Kenyataannya tidak demikian. Kehadiran media baru tidak lantas menenggelamkan media lama yang telah lebih dahulu hadir. Jadi, apa yang harus dicurigai tatkala media baru bernama media sosial lahir?

Halaman Selanjutnya

Meski Philip Meyer dalam The Vanishing Newspaper…
Tag

Baca Lainnya