Mekkah Berduka, Pasangan Ini Malah "Selfie"

Senin, 14 September 2015 | 20:37
AFP/ STR

Pasangan yang tertangkap kamera sedang menjepret selfie di lokasi robohnya crane di Masjidil haram

Jumat, 11 September 2015, peristiwa memilukan terjadi di kota Mekkah, Arab Saudi. Sebuah alat berat berupa crane alias mesin derek berukuran besar ambruk dan menimpa bagian bangunan di kompleks Masjidil Haram.Kondisi tempat kejadian ketika itu yang dipenuhi jemaah menjelang shalat maghrib mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas, termasuk 10 orang dari Indonesia. Sementara 238 lainnya menderita luka-luka.Toh, fakta menyedihkan itu tak menghalangi niat sebagian orang lain yang lolos dari bencana untuk mengambil foto selfie di lokasi kejadian.Misalnya saja pasangan yang diduga merupakan jemaah haji asal Indonesia ini. Sebagaimana dirangkum Nextren dari TribunNews, Senin (14/9/2015). Mereka tertangkap kamera sedang berfoto dengan latar belakang crane yang ambruk, dibantu orang ketiga yang mengambil gambar dengan ponsel QWERTY serupa BlackBerry.Hal ini dilaporkan menuai reaksi dari netizen yang menilai pasangan tersebut melakukan tindakan kurang sensitif di tengah situasi berduka. Tak diketahui apakah ada orang lain yang turut menjepret selfie di lokasi kejadian.Jatuhnya crane pada Jumat lalu disinyalir merupakan akibat badai kencang dan hujan lebat yang tengah melanda. Mesin derek yang roboh merupakan salah satu dari sejumlah mesin serupa yang menjulur ke angkasa di sekitar Masjidil haram untuk mengerjakan proyek perluasan dan renovasi masjid suci tersebut. Etis tak etisAlih-alih disambut dengan senyuman, foto diri alias seflie memang bisa mengundang kecaman apabila dilakukan dalam situasi yang dianggap kurang pantas atau melanggar etika umum soal perilaku.Perihal etika ini berbeda dari tindakan selfie yang membahayakan jiwa diri sendiri atau orang lain, semisal menjepret selfie di tempat berbahaya atau di dekat binatang buas. Memang tidak ada ketentuan tertulis yang disepakati bersama, yang memisahkan dengan jelas antara situasi-situasi di mana pengambilan selfie bisa diterima atau tidak. Namun, ada baiknya untuk mempertimbangkan nilai moral dan empati dari situasi yang tergambar dari sebuah frame selfie. Suatu hal yang bisa diterima oleh sebagian orang belum tentu bisa diterima oleh orang lain.Apalagi, begitu ditaruh di internet (melalui social media, misalnya), sebuah foto akan menjadi konsumsi orang banyak. Publik pun bisa dengan bebas menyatakan pendapat, entah bersifat pro atau kontra.Ini berpotensi mendatangkan hal tidak mengenakkan buat pengambil selfie, apabila tindakannya dipandang tak pantas.Ambillah contoh foto selfie yang dijepret seorang dokter di Kuala Lumpur, Malaysia, saat hendak melakukan operasi terhadap pasien di meja bedah. Tindakan yang -dalam pikiran dokter tersebut- mungkin sah-sah saja ternyata menjadi viral dan membuahkan hujan kecaman. Nama sang pelaku selfie pun rusak dan ia terancam dipecat.Secara umum, situasi berduka, atau yang berpotensi melanggar privasi sebaiknya disikapi dengan hati-hati oleh para pengambil selfie. Pikir-pikirlah dulu sebelum sebelum bergaya di depan kamera dan menekan tombol shutter.

Tag :

Editor : Oik Yusuf

Baca Lainnya