Tahun Depan Ada Ratusan Juta Sensor IoT di Indonesia, Nilai Pasar Tahun 2025 Sekitar Rp 1.620 Triliun

Kamis, 15 Oktober 2020 | 14:30

Ilustrasi IoT

Laporan wartawan Nextren, Fahmi Bagas

Nextren.com - Internet of Things (IoT) merupakan sebuah teknologi yang memaksimalkan keberadaan sebuah koneksi.

Dengan pemanfaatan tersebut, IoT dirancang untuk bisa menyatukan kondisi fisik dengan digital secara beriringan.

Perubahan serta pengembangan teknologi setiap tahunnya pun turut berdampak pada kehadiran IoT.

Indonesia pun sebagai negara berkembang sudah mulai mencoba beradaptasi dengan teknologi tersebut.

Baca Juga: WiFi 5G Sudah Banyak Dipakai di Hape 4G, Ini Bedanya Dengan Jaringan 5G

Sejumlah industri seperti pembangunan, energi, pangan, rumah tangga, hingga keamanan pun sudah mulai menerapkan skema menggunakan IoT.

Hal tersebut pun diakui oleh Kepala Sub Direktorat Telekomunikasi Khusus dan Kelayakan Penyelenggaran Telekomunikasi Kemenkominfo, Gunawan Hutagalung.

Pada webinar yang diadakan pada hari Kamis siang (15/10), ia menyebutkan kalau tahun depan, Indonesia akan memiliki ratusan juta sensor IoT.

Seperti apa rincian angkanya?

"Tahun depan kita akan punya 400 juta sensor dari berbagai bidang keperluan seperti asuransi, banking, healthcare, dan lain-lain," ucapnya.

Lebih lanjut, Gunawan juga memaparkan kalau pertumbuhan teknologi di Indonesia akan berkembang pesat.

Baca Juga: Internet Gratis Super WiFi Disiapkan di Labuan Bajo di 23 Titik Lokasi

Data analisis memperlihatkan kalau pangsa pasar akan mencapai angka Rp 444 Triliun untuk tahun 2022.

Bahkan untuk lima tahun kedepan, pangsa pasar IoT di Indonesia digadang-gadang bisa menembus angka Rp 1.620 Triliun.

Fahmi Bagas
Fahmi Bagas

Grafik pertumbuhan pangsa pasar IoT di Indonesia, menurut data Kemenkominfo.

Angka tersebut memang fantastis, namun Gunawan merasa kalau prediksi itu bisa diraih oleh Indonesia.

Baca Juga: Jaringan Fiber Optik Palapa Ring Timur Sudah Dibangun Ribuan KM, Menunggu Kesiapan Operator Seluler Masuk

Secara mendetil dijelaskan kalau kontribusi peningkatan itu nantinya akan terjadi di industri aplikasi sebesar 43 persen.

Lalu selanjutnya akan ada dari industri platform (35 persen), devices (13 persen), dan network (9 persen).

Terkait alasannya, Gunawan pun menyebut kalau pertumbuhan aplikasi itu didasari oleh awalan dari pertumbuhan devices yang akan diikuti setelahnya.

"Akan banyak di industri aplikasi terlebih dahulu karena untuk di device akan banyak permintaan teknologi aliansi bisa membangun perangkat disini," tuturnya.

Baca Juga: Internet WiFi dan Kuota Data yang Kita Pakai Melewati Jaringan Kabel Bawah Laut Puluhan Ribu KM

Dengan adanya penjelasan tersebut, diharapkan bahwa ke depannya perusahaan telko di Indonesia bisa menjadi wadah bagi masyarakat.

"Ini adalah momen terbaik untuk mengubah pola hidup masyarakat dari konvensional ke digital," pungkas Gunawan.

(*)

Editor : Wahyu Subyanto

Baca Lainnya