Takut Disalahgunakan, Google Janji Tak Jual Teknologi Pengenalan Wajah

Minggu, 16 Desember 2018 | 18:28
medicalnewstoday.com

Google menahan teknologi pengenalan wajahnya sampai ada regulasi yang ketat.

Laporan Wartawan NexTren, David Novan Buana

NexTren.com - Teknologi yang mampu memengaruhi tatanan sosial manusia adalah hal yang tidak boleh sembarangan diperjual belikan.

Hal inilah yang ingin disampaikan oleh Google, dengan janjinya untuk tidak menjual teknologi pengenalan wajahnya, setidaknya untuk saat ini.

Setelah nantinya ada kebijakan yang mampu mencegah terjadinya penyalahgunaan teknologi ini, barulah Google akan mempertimbangkannya.

Baca Juga : Inovasi Teknologi di Surakarta, Pembangkit Listrik Sampah Hingga Pungutan Elektronik

Mengapa Google sampai membuat janji tersebut? Tentunya hal itu berhubungan dengan resiko yang akan muncul bila teknologi tersebut lepas ke pasaran.

Menurut pernyataan dari Google yang dilansir dari Engadget, perusahaan tersebut melihat adanya kemungkinan penyalahgunaannya.

Selain itu, Google juga ingin penggunaan teknologi pengenalan wajah tersebut sesuai dengan prinsip dan nilai dari perusahaan tersebut, tanpa adanya pihak yang dirugikan.

Caranya adalah menjalin kerjasama dengan beragam organisasi untuk mengenali dan mengatasi masalah yang bisa muncul dari penggunaannya.

Nicole Ozer dari ACLU juga menyatakan persetujuannya; karena tidak seperti perusahaan teknologi lain yang tidak peduli, Google memperlihatkan bahaya yang bisa terjadi bila teknologi ini jatuh ke tangan pihak berwajib dan intelijen tanpa adanya batasan hukum yang kuat.

Pada saat bersamaan, Google juga menyatakan perusahaan lain yang juga membuat teknologi serupa perlu memedulikan efek dari digunakannya teknologi tersebut.

Resiko yang bisa terjadi dari digunakannya teknologi pengenalan wajah tanpa adanya tali kekang yang kuat akan membuat penduduk minoritas menderita.

Baca Juga : Bitcoin Lahir Dari Blockchain, Teknologi Penyimpan Data Teraman di Dunia

Berkat adanya pengenalan wajah tersebut, pendudukdengan ras berbeda di lingkungan tertentu bisa dengan mudah jatuh ke dalam prejudis.

Apalagi dengan adanya teknologi yang didukung oleh kekuatan AI tersebut,orang yang ikut serta di dalam unjuk rasa juga menjadi dengan mudah dapat dikenali.

Setelah itu, mereka akandimasukkan ke dalam daftar hitam, dan seperti yang telah terbukti di beberapa negara, mereka mendapatkan perlakuan yang buruk dari pemerintahnya.

Contoh yang paling mencolok dari penggunaan teknologi ini adalah di China, yang mengumpulkan data penduduknya sendiri untuk dimasukkan ke dalam daftar, dan mendapatkan perlakuan yang tidak adil.(*)

Editor : Kama

Sumber : Slashdot

Baca Lainnya